Bapak dan Ibu H. Anwar Rofi’ie pada masa hayatnya sangat memperhatikan pendidikan putra putrinya, terutama dalam pendidikan dan pengamalan Agama Islam, sehingga banyak jasa dan wakaf serta infaqnya untuk sekolah-sekolah Muhammadiyah. Dengan adanya hasrat dan keinginan untuk meneruskan cita-cita dan usaha bapak ibu H. Anwar Rofi’ie, maka dibentuklah suatu yayasan yang diberi nama “Yayasan H. Anwar Rofi’ie” Kotagede Yogyakarta, sebagai sarana beramal bagi generasi penerus H. Anwar Rofi’ie.

Modal awal YAYASAN H. ANWAR ROFI'IE diambilkan dari warisan Bapak dan Ibu H Anwar Rofi’ie. Warisan bapak & simbok disepakati para ahli warisnya untuk sebagian disisihkan dan tidak dihabis bagikan. Demikianlah maka kesukaan beramal jariyah yang telah dirintis bapak simbok semoga selalu dapat diteladani dan diteruskan oleh para penerus generasinya. Niat beramal sholeh telah dicanangkan.

Alhamdulillahirobil’alamin, atas taufiq dan inayah dari Allah swt niatan di atas terujudkan. Pada tahun 1997 Ibu Wardanah ( anak nomor 10 ) dan Ibu Jamalah ( anak nomor 12 ) bersama-sama membeli sebidang tanah seluas ± 850 m2 di Dusun Tundan, Tamantirto, Kasihan Bantul. Pemilihan lokasi dan pembelian tanah ini atas bantuan dan jasa baik dari PUREK II dan PUREK III Universitas Muhammadiyah Yogyakarta pada saat itu, yaitu Bapak H. Supriyadi dan Drs. Khoiruddin Basyori (cucu nomor 23). Tanah tersebut kemudian dihibahkan kepada Yayasan H. Anwar Rofi’ie untuk modal pendirian tempat pendidikan / pondok pesantren. Semoga Allah swt meridhoi mereka dan segala usaha di hulu & hilirnya.

Pembangunan Gedung

Pembangunan gedung di atas tanah tersebut segera direncanakan dengan dibentuk Panitia Pembangunan. Gambar Rencana Gedung pun mulai dibuat dan dibahas pertama oleh Panitia dan Pengurus Yayasan. Namun ternyata belum berhasil mendapatkan gambar desain bangunan gedung yang sesuai dengan harapan bersama. Karena kesulitan tenaga yang dapat menekuni dan mampu menangani pembangunan gedung, maka kerja panitia pun tidak dapat lancar seperti yang diharapkan.

Akhirnya pada tanggal 5 November 2005 berdasarkan kesepakatan dalam Rapat Pengurus Yayasan, maka Pembangunan Gedung Asrama diserahkan kepada Tim Pembangunan UMY yang dipimpin oleh Bapak Surya Budilesmana, ST.


Alhamdulillah, pada bulan Mei 2007 berhasillah diselesaikan pembangunan sebuah gedung, cukup megah dan representatif.

Pemanfaatan Gedung

Pada 17 Juni 2007 / 2 Jumadi Ats.Tsani 1428 H Yayasan H. Anwar Rofi’ie menyerahkan pengelolaan gedung yang baru selesai dibangun tersebut kepada Pimpinan Pusat ‘Aisyiah untuk Pondok Mahasiswa. Jalinan kerjasama PP (Pimpinan Pusat) ‘Aisyiyah dengan UMY (Universitas Muhammadiyah Yogyakarta) untuk melanjutkan pengelolaan Pondok Mahasiswa Putri Nyai Ahmad Dahlan yang telah berfungsi sebagai sarana perkaderan ‘Aisyiah sejak 1999. Pondok Mahasiswa Putri ini semula berlokasi di Patangpuluhan Yogyakarta di rumah hak milik Ibu Wardanah ( anak nomor 10 ).

Harapan

Jalinan kerjasama yang baik antara PP ‘Aisyiah, UMY dan Yayasan H. Anwar Rofi’ie dalam mengelola Pondok Mahasiswa dapat selalu berkembang. Dan sarana Gedung Megah ini diharapkan akan mendorong kita untuk lebih meningkatkan semangat dan daya juang dalam menegakkan Agama Islam dengan ikhlas sesuai dengan niat pertama pembanguan gedung milik Yayasan H. Anwar Rofi'ie.

Dengan sarana ini pula semoga menghasilkan calon Pimpinan ‘Aisyiah dan Pemimpin Umat Islam yang unggul dalam kualitas keimanan serta ketaqwaannya, penuh keridhoan & barokah Allah SWT.

Semoga Allah SWT selalu memberi kelonggaran rizki dan kekuatan untuk mengabdi kepada-Nya.

Amin ya robbal ‘alamin.



Selengkapnya ......

Pasangan Bapak H. Anwar Rofi’ie (alias MOERSJID) [1904 s.d. 06 April1987] dengan Ibu Hj. Anwar Rofi’ie (alias SOKIMAH) [1904 s.d. 11 Juni 1982] mempunyai 13 (tiga belas) anak. Bapak H. Anwar Rofi’ie (83 th) dan Ibu Hj. Anwar Rofi’ie (78 th) keduanya dimakamkan di Ledok Kotagede.


Catatan : 06 April 1987 M = 08 Sya’ban 1407 H
11 Juni 1982 M = 11 Sya’ban 1402 H.


Klik untuk memperbesar



Selengkapnya ......

Menyimpan foto-foto kuno merupakan hal yang mengasyikkan, apalagi jika foto tersebut memiliki nilai sejarah atau kenangan yang tak terlupakan.

Namun foto-foto yang kita simpan dalam jangka waktu yang lama sering kali mengalami penurunan kualitas gambar, baik karena warnanya yang mulai pudar, maupun karena kertas foto yang mulai rusak, sobek, atau malah dimakan "renget" :-).


Di era digital sekarang ini, hal itu bisa diatasi dengan mudah. Penyimpanan foto bisa dilakukan dengan berbagai cara, bisa dengan cara konvensional menggunakan album foto, maupun menggunakan media penyimpanan secara digital dengan mengubah foto menjadi file gambar digital.

Sering kali foto yang ada sudah terlanjur rusak sebelum sempat discan menjad file digital. Hal itu tidak jadi masalah. Sekarang ini sudah banyak software yang dapat digunakan untuk mengolah foto digital misalnya Photoshop, Photopaint, dan lain-lain. Namun bila anda tidak terlalu akrab dengan software tadi (seperti saya :-)), ada software menarik yang pantas dicoba yaitu Retouch Pilot 3.0.1. Software ini sangat praktis, mudah digunakan, serta portable. Artinya tidak perlu di install di komputer, dan langsung bisa dijalankan dari flashdisk, cd atau media lain.

Tampilannya cukup sederhana dan komunikatif.

Tampilan pertama yang muncul adalah menu demonstration yang akan memandu kita untuk menggunakan seluruh menu yang ada. Ini akan sangat bermanfaat bagi yang baru pertama kali menggunakannya.

Informasi selengkapnya bisa dibaca di sini.



Selengkapnya ......

Lima Jenis Racun dan Lima Penawarnya

  1. Dunia itu racun, zuhud itu obatnya.
  2. Harta itu racun, zakat itu obatnya.
  3. Perkataan yang sia-sia itu racun, zikir itu obatnya.
  4. Seluruh umur itu racun, taat itu obatnya.
  5. Seluruh tahun itu racun, Ramadhan itu obatnya.




Selengkapnya ......

Kubur Setiap Hari Menyeru Manusia Sebanyak Lima (5) Kali ...

  1. Aku rumah yang terpencil,maka kamu akan senang dengan selalu membaca Al-Quran.
  2. Aku rumah yang gelap, maka terangilah aku dengan selalu solat malam.
  3. Aku rumah penuh dengan tanah dan debu, bawalah amal soleh yang menjadi hamparan.
  4. Aku rumah ular berbisa, maka bawalah amalan Bismillah sebagai penawar.
  5. Aku rumah pertanyaan Munkar dan Nakir, maka banyaklah bacaan"Laa ilahaillallah, Muhammadar Rasulullah", supaya kamu dapat menjawabnya.

Selengkapnya ......







Alhamdulillahirobbil'alamiin


Kita masih diberi kesempatan oleh Allah untuk bertemu lagi
dengan bulan Romadhon tahun 1429 H.

Marilah kita manfaatkan kesempatan di bulan
yang penuh berkah ini
untuk meningkatkan ibadah
dalam rangka mencari ridho Allah SWT.


Kami segenap Putro Wayah Mbah H. Anwar Rofi'ie mengucapkan :

SELAMAT MENJALANKAN IBADAH PUASA,
SEMOGA BULAN ROMADHON INI MENJADI MOMENTUM UNTUK MEMPERBAIKI DIRI SERTA LEBIH MENDEKATKAN DIRI KEPADA ALLAH SWT.






Selengkapnya ......

H a l : Suka silaturrahmi

Bapak suka silaturrahmi, saling mengunjungi baik dengan teman-teman atau famili-famili dekat dan jauh. Keakrabannya dapat terjalin seperti famili dekat. Salah satu ungkapan/kesan dari seorang putra temannya : mBiyen rumangsaku awake dhewe ki sedulur, jebulane dudu. Soale bapakku karo bapakmu ki raket banget, yen ngaturi ki : LEK utawo KANG, dadi koyo sedulur. Jebulane dudu.



Saling mengunjungi (silaturrahmi) itu direncanakan dan diatur pelaksanaannya : misalnya saat Iedul Fitri, adanya hajatan (perhelatan) nikah, khitan, bezoek tambah keluarga (bayen) dan seterusnya. Dicontohkanlah bagaimana mempraktekkan silaturrahmi tanpa mengganggu pekerjaannya. Pekerjaan berjualan di pasar kebiasaan simbok (dan ibu-ibu rumah tangga Kotagede) tidak terganggu. [-]


Artikel terkait :

Selengkapnya ......

Tentang kerja keras dan tertib administrasi

Bapak/Simbok tinggal di Ngledok, dirumah warisan mbah H. Abdul Rahman, orang tua bapak. Simbok punya rumah warisan dari mbah Kromowijoyo di Pondongan. Bapak Simbok itu pasangan orang tua pekerja keras yang selalu mengembangkan usahanya. Tabungan tanah/sawah adalah hasil pembeliannya sendiri.


Usahanya bermacam-macam, antara lain: mensuplai benang tenun ke pengusaha tenun kecil di desa. Simbok berjualan di Pasar Beringharjo Yogyakarta (hasil tenun, konveksi, kain batik). Bapak mengendalikan usaha koveksi, tenun dan pertanian dari rumah. Dan mungkin bapak pernah menjadi pengusaha kerajinan Perak. Aku sempat lihat bekas peralatannya yang tersimpan.

                Kira-kira mirip seperti inilah alat tenun Mbah Anwar Rofi'ie dulu

Semua usaha bapak selalu ada catatan pengeluaran dan penghasilan. Tertib administrasinya hebat, sangat teliti. Ternyata tak lupa pula mencatat tentang kelahiran semua anak dan cucunya, lengkap pula dengan nomor urutan cucu.

Bapak dan Simbok termasuk orang maju di zamannya !

Bapak dan Simbok benar-benar orang maju (modern) di zamannya. Fasilitas listrik (radio, seterika), mesin tulis (typewriter), camera foto, surat kabar harian, rekreasi keluarga (dengan membawa camera) telah jadi agenda keluarganya.

Di halaman luasnya, di rumah Ngledok selain untuk menjemur padi digunakan untuk olah raga Badminton. Tersedia juga Meja untuk permainan Tennis meja. Semuanya terselenggara (terlibatlah : bapak / simbok dan atau putra putrinya). Di rumah untuk kegiatan, rapat pengurus bagi kepentingan Organisasi Muhammadiyah, NA, HW (gerakan kepanduan Hizbul Wathon), Pemuda Muhammadiyah, PII (Pelajar Islam Indonesia), Mardihartoko, dan lain lain.

Bahkan ikut memperhatikan akan terpenuhinya kebutuhan dana Organisasinya itu. Bersama-sama dengan tokoh-tokoh gerakan lainnya (antara lain : Bapak H. Masyhudi, Bapak H. Bahar, Bapak Martodikoro, dll) mengumpulkan dana untuk usaha. Dan melalui Perkumpulan Mardihartoko (perkumpulan beberapa pribadi / tokoh Muhammadiyah itu) membeli tanah / sawah dan mendirikan usaha percetakan Stencil Cermat. Hasil usahanya untuk mendanai Muhammadiyah Kotagede. Sayang waktu Landreform ( + 1962 ) harta kekayaan tanah/sawah Mardihartoko disita karena Mardihartoko bukan badan hukum (jadi tak mempunyai hak kepemilikan tanah / sawah).
sumber foto : http://www.ranesi.nl/spesial/kabar_yogya_pasca_gempa2006/Menenun_Puing_Tradisi_060816


Artikel terkait :


Selengkapnya ......

Bidang pendidikan hidup sederhana dan mandiri.

Bapak memberi contoh dapat melakukan semua pekerjaan tukang dan memiliki semua peralatan tukang batu, tukang besi dan alat-alat mematri. Bapak / simbok tak membedakan pendidikan anak laki-laki dan perempuan. Semua ketrampilan sehari-hari harus bisa bahkan diajar sendiri oleh bapak/simbok. Dari menanak nasi, menjahit baju sampai memelihara sepeda, sampai menambal ban bocor.


Uang sakupun sejak SR (Sekolah Rakyat sekarang SD) dibatasi, uang jajan (sebagian harus ditabung di Kantor Pos). Bapak / simbok tidak pernah memanjakan, anak mulai saat kelas 6 SD harus bisa mencuci pakaiannya sendiri walau di rumah ada pembantu. Dan pakaian sekolah Mu'allimat pun dicukupkan hanya 3 stel (1 stel untuk 2 hari).

Bapak/simbok punya prinsip : anakku okeh, aku ora nyangoni bondho, aku mung nyangoni ngelmu, lanang wedok podho wae.


Hari-hari biasa tak boleh mengenakan perhiasan. Perhiasan bagi anak putri hanya boleh dikenakan di hari Raya Iedul Fitri dan jagong manten. Sepeda dibelikan sesudah tamat SR, dibelikan jam tangan kalau naik kelas 3 Mu'allimat. Ini semua sudah dijadwal dan diberitahukan sebelumnya. Jadi, kami tidak bisa berharap (saat masih klas 1) akan punya jam tangan walaupun teman-teman sudah memakai. Kami tak merasa tertekan / minder, karena merasa itulah kemampuan orang tua kami.

Namun kami dengar orang mengatakan :
“mbah H Anwar Rofi'ie sugih anak, sugih bondho." Namun Sesungguhnya dan sebenarnya saya sendiri tidak merasa sebagai anak orang kaya, tetapi cukup saja.

Pada suatu saat ketika kami bercerita bahwa teman kami mengadakan kesepakatan ingin berbaju seragam (kembaran), berseragam tas dan lainnya, spontan :
bapak sendiri berkata : “ kowe ora usah melu-melu,
kae rak yo anake wong sugih-sugih ! ”

Kami diberi kebebasan untuk menambah ilmu dan ketrampilan dengan pesan harus mengajarkannya kepada yang lain. Kang Asy'ari kursus batik dan tenun, Yu Djamim kursus bordir, aku kursus Bahasa Inggris, batik, roti kering / basah, dll.


Artikel terkait :


Selengkapnya ......


(Diolah dari tulisan Wardanah binti Anwar Rofi'ie oleh Arsjad)

Inilah sekelumit pengalaman dan kesan-kesan saya kepada almarhum bapak/simbok H. Anwar Rofi'ie, Ngledok yang tertanam di lubuk hati saya dan sangat dalam. CERITAKU BERIKUT ADALAH WUJUD : INGIN MENIRU DAN MENERUSKAN PERJUANGAN BELIAU - BELIAU walaupun sangat sulit.

Bagaimana bapak dan simbok melaksanakan pendidikan agama Islam ?
  • Pendidikan untuk putra-putrinya diarahkan ke pendidikan agama. Bapak maupun simbok punya perhatian sama dan saling mendukung. Bapak & simbok memberi contoh konkrit membimbing dan mendorongnya. Bapak/Simbok mengamalkan TUNTUNAN AGAMA ISLAM dengan mengikuti Muhammadiyah secara konsisten. Bapak menunaikan ibadah haji bersama ibunya tahun 1926 dan simbok tahun 1968 diantarkan Kang Asy’ari.

  •  
    Dibiasakan sejak kecil kami bertiga dengan Yu Djamimah, Yu Nafi'ah mengaji Al Qur'an di rumah / dititipkan ke Ibu Zaroah (Ny Abd. Sayuti) Pondongan. Dibiasakan pula salat 5 waktu, puasa, dan salat maghrib selalu berjamaah. Kami disuruh mengajar mengaji anak-anak Ngledok dan Semoyan yang dilakukan di rumah.


  • Kegiatan DB (Dirosatul Banat) dari NA (Nasyiatul 'Aisyiyah = kegiatan untuk putri-putri anak Muhammadiyah) diharuskan ikut (meski jauh) setiap malam Jum'at.
    Bapak memimpin kegiatan ibadah seperti Yasinan & Tahlil, Nyadran tiap bulan Ruwah (Sya'ban). Sesudah Muhammadiyah menetapkan bahwa tidak ada dalil untuk kegiatan tersebut lalu bapak menghentikannya. Selain kegiatan ibadah yang terselenggara di rumah maka kegiatan di Surau (Jawa : Langgar) dilaksanakan bersama sesepuh lingkungan, misalnya Kang Wardoyohartono, Kang Zuhri Hasyim & Kang Adham Hasyim serta Wo Dimyati, dan lain-lain.

  • Membantu dana mendirikan bangunan SD Muhammadiyah Purbayan dan SD Muhammadiyah Mertosanan. Keluarga mewakafkan rumah joglo Ngledok untuk mendirikan bangunan Masjid Semoyan dan sebidang sawah di desa Sanggrahan untuk membantu pembangunan Masjid Mrican, adalah untuk merealisasikan wasiyat Simbok atas sebagian warisannya.



  • Bapak berpesan : “senengo wakaf koyo Ismail (pemilik Toko Terang Bulan Malioboro Yogyakarta). Wong wakaf kuwi ora marahi mlarat.”
    Dan selain berpesan maka kami diajak membantu menghitung zakat, disuruh mengantarkan zakat kepada mustahik, tetangga dan kerabat.


  • Pada musim paceklik menjual beras murah untuk tetangga-tetangga. Hasil panen lainnya (selain padi) selalu dibagikan ke tetangga.

  • Simbok mengadakan tarwehan dan menjadi imam tetap dan sesudah tarweh simbok memimpin sendiri tadarus Al Qur’an beranggotakan para tetangga dari Ngledok, Ndalem dan Cokroyudan.

  • Ketika simbok dirawat Di PKU Muhammadiyah Yogyakarta telah berwasiat kepadaku dan Kang Bashori bahwa beliau punya simpanan uang untuk ikut meringankan biaya pendidikan santri di Pondok Pesantren Gontor Jatim dan Pabelan Jateng.


Saya simpulkan : bapak simbok mendidik (tidak hanya mengajar). Beliau, bapak dan simbok, itu mendidik putra-putrinya agar bukan hanya kaya harta saja tetapi kaya harta yang bermanfaat untuk ibadah. Kesimpulanku ini sangat kuyakini kebenarannya sesaat mendengar jawaban simbok atas pertanyaan bapak waktu berdialog sepulang ibadah haji simbok (1968) :

Bapak tanya : “ Opo anak anake didongakke ben podho sugih ?”
Jawab simbok : “ Mboten ming kula dongakke biso munggah kaji kabeh. Nek biso munggah kaji niku rak nggih sugih to !”




Artikel terkait :


Selengkapnya ......